Tuesday, July 27, 2004

Minggu Itu.....????



Pagi Minggu itu aku terbangun dalam mimpi panjangku, pagi itu aku harus menunaikan beberapa kewajiban sebagai seorang hamba Allah, menghadiri pengajian dengan saudari-saudariku, dan datang ke walimahannya mbak Vini dan mas Ibenk. Pukul 09.00 berdenting tapi aku masih berada di kost-an, ya aku terlambat nih, karena pengajian itu dimulainya pada pukul 09.00 teng. Ya nggak apa-apa pikirku, yang terpenting datang khan…..Aku pun tiba dalam majelis itu hampir pukul 09.30, ya hitung-hitung terlambat 30 menit, tapi ternyata majelis itu juga baru mulai, acara baru dimulai dengan tilawah. Alhamdullilah bathinku bergumam…..

Waktu terus bergulir merangkak pagi itu, aku pun ngomong sama MR ku, “mbak entar aku pulang cepat ya, aku mau ke pernikahan temanku”. Iya jawabnya, Alhamdullilah pada pukul 11.15 pengajian itu selesai, aku dan satu saudariku langsung meninggalkan majelis itu untuk mendatangi ke daerah tujuan. Yap…Tepat pukul 12.00 aku pun bertemu dengan temanku yang dari kemarin sudah janjian untuk berangkat ke acara walimahan itu. Kami pun segera naik taxi menuju ke pesta pernikahan rekan kerja kami itu. Woi…akhirnya kami sampai, bertepatan dengan acara pemotretan untuk anak-anak TRANS TV, kami pun segera ikut bergabung dalam acara dokumentasi itu, ya paling tidak untuk kenangan-kenangan. Ya nggak…..???

Acara pun selesai, kami pun beranjak untuk pulang meninggalkan kedua mempelai dengan iringan doa semoga mereka berbahagia lahir dan bathin….. Siang itu ternyata belum cukup perjalanan seorang pengembara dunia. Aku sama teman-teman berkunjung ke Rumah Sakit Pertamina, rencananya untuk menjenguk rekan kerja kita Ardi, sudah satu bulanan ia sakit, eh gak tahunya ia sudah balik ke rumahnya di Depok. Kita pun segera menyisir ke kantor, treng….treng sampailah kita di kantor.

Lalu cepat –cepat kubergegas untuk shalat zhuhur karena sudah pukul 14.00. Setelah shalat aku menyempatkan menelepon saudari-saudariku di Palembang. Yap, udah selesai pikirku, waktunya untuk pulang, teriak bathinku…...

Ketika Aku mau menapakkan langkahan kakiku, ada seseorang dihadapkan dan berkata “Mona sudah tahu…?” Aku pun bertanya “Tahu Apa ya mas?” Mbaknya kecelakaan……Tubuh dan kepalanya tergilas motor, dia langsung pingsan seketika.
Tersentak Jiwaku seketika, segera kuucapkan Inallillah, gimana ceritanya, kapan, dimana, tahu dari siapa dan keadaan dia sekarang gimana?” Berbagai Pertanyaan pun terlontar dari mulutku……

Langsung kutelepon rumahnya untuk memastikan kejadian itu, dimas pun mengangkatnya, kubertanya sama dia, ya ternyata benar. Aku bertanya mbaknya sekarang dimana ? dia jawab mbaknya sedang tiduran. Ya berarti aku bisa nelepon dia sekarang. Lalu teleponku itu diangkat oleh seorang ibu, ternyata ibunya. Segera kubertanya “gimana bu kondisi mbak, sekarang lagi diapain?” Mbaknya lagi diurut. Memang benar dari balik telepon itu aku dapat merasakan penderitaan saudariku itu, dia menjerit kesakitan ketika tangan mbah pijat itu mengurutnya. Desah hati dan jiwaku tak tertahan, aku harus segera berada disamping dia, teriak bathinku……..

Sgera kubergegas untuk shalat Ashar, habisnya makan. Dan aku pun langsung cabut ke rumah orang yang kusayangi itu. Dalam perjalanan itu pengembara dunia mau cepat-cepat sampai, tapi memang kondisi tidak memungkinkan, suasana di jalan macet banget, ya mau nggak mau aku harus jalani kondisi ini……. Akhirnya sampailah aku dalam perjalanan panjang itu. Aku segera mencari dia, tapi orang yang pertama kali yang kutemui justru ibunya, berceritalah sang ibu. Dan aku bertanya sekarang mbaknya dimana? Dia sedang mandi, “aahh jawabku....” Nggak percaya........????

Dia pun selesai mandi, segera kudekati dia, gimana mbak? Dia pun langsung ngomong “Ngapain kesini?, aku sehat-sehat saja” Wow, tersentak hatiku sedih mendengar perkataan itu. Tapi aku pura-pura nggak mendengar, jangan sedih mona, kau datang untuk seorang saudari yang sangat kau sayangi karena tali kasih Allah. Azan pun berkumandang, kita shalat berjamaah, setelah aku bertanya lagi, mbak kepala dan badannya gimana? Sakit dan pusing jawabnya. Nggak beberapa lama, beberapa saudariku dari kantor datang juga, bisa pulang nih pikirku sama-sama mereka. Dia juga tidak membutuhkanku disini, pikirku. Tapi sebelumnya, kita mengajak dia untuk berobat memeriksakan kepalanya, mungkin saja ada masalah. Karena dia sempat pingsan dan masih pusing……..

Treng….treng perjalanan para pengembara dunia pun sgera menyisiri dunia malam. Malam itu kita menyusupi keheningan malam nan dingin…… Sampailah kita di sebuah rumah sakit, lalu kita bertanya, kita mau sitish scan pak, ya maaf bu disini nggak ada. Dimana ya pak ? Di Rumah Sakit Pasar Rebo atau Harapan bunda, kita pun meluncur ke RS Pasar Rebo, ya baru disana ada. Proses pemeriksaan dilakukan, dan alhasil ronsennya tidak ada keanehan apa-apa, semuanya baik. Tapi hanya tinggal satu lagi, sitish scan, besok baru bisa diperiksa.

Akhirnya selesai, saudari-saudari yang lain pulang, kecuali aku. Karena hatiku memaksa aku untuk menemani, menjaga dan merawatnya. Sampai di rumah, kita makan mie dulu sebelum akhirnya tidur. Namun, aku nggak bisa tidur, aku masih memikirkan keadaaannya, aku ingin selalu menjaganya malam itu sampai waktu shubuh pun tiba. Dan mataku yang sangat ngantuk itu, terpaksa harus kebuka lebar-lebar untuk menunaikan kewajibanku menyembah Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Setelah selesai itu sebenarnya aku ingin tidur, untuk menghilangkan rasa kantuk walau hanya sebentar, tapi aku nggak bisa. Dia pun mengajak aku untuk menghirup udara segarnya pagi hari di atas rumah. Sejuk, segar dan nikmat…….

Setelah itu kita lihat fhoto-fhoto masa lalunya, dan memijat dia. Namun, telepon rumah berdering, seorang teman Dpranya meneleponnya bertanya sesuatu tentang kegiatan Dpra itu. Aku pun berdiam diri diatas, sampai tibanya segera aku ke bawah untuk mandi. Setelah itu shalat Dhuha. Kemudian, setelah shalat aku bilang sama dia “Mbak masih sakit punggung dan kepalanya?” Sedikit jawabnya. Sini aku pijatin jawabku. Pada saat itu gelora bathin dan jiwaku sangatlah bahagia. Aku sangat bersyukur sama Allah telah memberikanku kesempatan untuk menjaga, merawat orang yang sangat aku sayangi. Rasanya pada saat itu akulah orang yang paling berbahagia di dunia ini, begitu besar nikmat dan kasih sayang Allah samaku.
Sampai pada waktunya, aku harus segera pulang karena besoknya aku harus bekerja………

(Untuk Mbak Sayang, Aku senang mbak sudah sembuh. Besok-besok hati-hati ya, trus jangan Bandel lagi ……..)

Friday, July 23, 2004

Desember 2003, Sebuah Moment Yang Tak Pernah terlupakan



Outbond, sebuah kata yang sangat asing dalam benakku dulu. Aku baru kata outbond ketika semester 4, ketika itu aku, dan saudari-sauadariku di Palembang mengadakan acara tersebut. Apa ya namanya, ohya kita sebut dengan Rihlah (Tafakur Alam) di sebuah Dusun, daerah terpencil dari kota empek-empek itu. Awalnya kita akan rihlah dan mabit di sebuah Pondok Pesantren di Indralaya, eh tahu-tahunya nggak jadi. Karena tempat itu dipakai untuk acara walimahan. Ya udah…. mau nggak mau kita terpaksa deh tinggal dan rihlahnya di sebuah tempat basisnya anak-anak, dan pemuda/i sebagai tempat pembelajaran segala seluk beluk tentang Al-qur’an, mulai dari membaca, memahaminya, bahasa Arabnya, Pokoknya lengkap deh.

Hari itu pun tiba dan sampailah kita dalam sebuah kota kecil yang sangat sunyi. Wow ternyata tempatnya diluar dugaan, aku tahu ada sebagian besar dari peserta rihlah itu kecewa, dan mau cepat-cepat balik. Dari raut mereka terpancar rasa itu, ya aku hanya bisa bicara sama hatiku, ya mungkin manusiawi aja ya? Waktu itu kita telah baru selesai benar ujian semesternya, dan rihlah itu salah satu alternatif sebagai penghibur dan sabagai pembuang rasa lelah, bete’ selama 6 bulan yang telah dihabiskan. Ya, nggak tahunya kita berlibur dalam suasana yang sangat sederhana, sunyi, dan bisa dibilang pedalaman kali ya. Ya jadi begitulah baru satu tapak kaki melangkah, dan melihat keadaan dis sekeliling terlihat wajah-wajah yang menyesel.

Tapi Perjuangan Bagi seorang Aktivis dakwah, dan sebagai sesama manusia yang juga merasakan kebutuhan yang sama berpikir bersama-sama agar 3 hari waktu rihlah akan memiliki arti yang sangat berkesan dalam hidup mereka, dan tidak akan pernah melupakannya. Kita bersama-sama saling merangkul satu sama lain, membentuk sebuah ikatan cinta dan kasih sayang, sehingga kalau nggak ada yang satu dia akan kehilangan, dia akan mencari, dan kesemuanya itu berlandaskan hanya karena Allah.

Pada saat itu aku kebagian mempunyai adik-adik asuh dalam sebuah kelompok. Dan dimulailah aksi kita untuk sama-sama menyatukan visi dan misi dari kedatangan kita itu. Berlibur dengan mengharapkan ridha dari Allah SWT. Woi, ternyata berbagai macam karakteristik yang dimiliki oleh banyak saudari-saudari disini. Ada yang anak mama, manja banget, ada yang cuek, ada yang sangat keras pendirian, pokoknya beraneka ragam sifat dan tingkah laku, unik banget deh.

Hari pertama berjalan sampai malam harinya, berbagai macam keluhan yang disampaikan dan banyak alasan. Ada seorang adik bilang mbak aku mau balik, trus aku Tanya kenapa, dia pun menjawab, ada kerjaan dan udah janji sama bapaknya untuk menjemput dia besok harinya. Trus aku jawab, dek kalau bisa jangan balik ya, nggak penting –penting amat khan, trus dijawabnya besok aku ulangtahun, aku udah janji sama tenmanku untuk traktir mereka di KFC. Oh gitu jawabku, gini aja dek bilang sama temannya entar aja setelah kamu pulang dari rihlah ini, gitu yang aku jawab. Ya… lihat aja mbak, dia jawab, OK deh jawabku.

Malam tarbiyah pun tiba, para pengisi materi telah siap memberikan tausiah bagi kita semua. Pada saat itu kita bentuk dalam beberapa kelompok, begitu sunyi, nikmat dan begitu erat ikatan pada malam itu, antara yang satu dengan yang lain saling mengikat. Subhannallah summa subhannallah……

Pagi pun tiba berbagai acara pun telah dipersiapkan oleh panitia, salah satunya acara outbond dengan Trustco. Awalnya kita diberi materi singkat, dan kemudian barulah kita mengadakan banyak permainan dengan dipandu oleh mbak-mbak trustco. Dalam outbond trustco itu ternyata ada sesuatu yang berbeda, sebuah hubungan yang kental tengah kita ikat, saling memiliki dan menyayangi, sebuah ikatan suci yang luar biasa. Hari kedua itu semuanya senang, perhatian dan saling menjaga.

Malam pun menjemput kembali, hati-hati kita telah beralih dengan drastisnya, semuanya bahagia, semuat hati terikat karena cintaNya. Adik yang sangat manja itu sekarang sudah perlahan mandiri dan tidak jadi balik, dia nikmati perjalanan rihlah itu dengan suka cita. Teng…Teng….. malam muhasabah pun tiba, disini semua hati-hati dibuat untuk terhanyut hanya untuk Sang Maha Pencipta Allah SWT, dan subhannallah “Deraian air mata demi deraian air mata mengalir dan terus mengalir” Sangat nikmat, lezat, merasakan belaian cinta kasihNya. Maha Agung Allah Atas Segala Sesuatu yang DikehendakiNya.

Perpisahan pun tiba, acara outbondnya berakhir. Pagi itu wajah-wajah ceria, dan bersih melangkahkan kakinya untuk saling merangkul, berpelukan, dan berjanji untuk menjadikan moment terindah ini akan berjalan untuk selamanya, tidak akan pernah berakhir.....

(Aku teringat dengan malam kebersamaan itu, penuh dengan kenikmatan dan limpahan kasih sayangNya, kapan ya aku bisa berkumpul dengan kalian lagi saudariku? Aku rindu hari-hari itu lagi?)

Thursday, July 22, 2004

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga



Ternyata obrolan kita tentang cinta belum selesai.
Saya telah menyatakan sebelumnya betapa penting peranan kata itu dalam mengekspresikan kata cinta. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk ekspresi cinta.
Cinta merupakan sebentuk emosi manusiawi. Karena itu ia bersifat fluktuatif, naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar di diri manusia yang mempengaruhinya.

Itulah sebabnya saya juga mengatakan, mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya.
Jadi obrolan kita memang belum selesai.
Begitu pentingkah? Ah, mungkin secara harfiah tidak sejauh itu. Tapi ini adalah masalah manusia yang paling dalam.
 
Walaupun begitu, saya juga tidak merasakan adanya urgensi untuk menjawab pertanyaan ini: apa itu cinta?
Itu terlalu filosofis. Saya lebih suka menjawab pertanyaan ini: bagaimana seharusnya Anda mencintai?
Pertanyaan ini melekat erat dalam kehidupan individu kita.
 
Cinta itu bunga: bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita.
Taman itu adalah kebenaran.
Apa yang dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga-bunga adalah: air dan matahari.
Air dan matahari adalah kebaikan.
Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan.
Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.
 
Maka begitulah seharusnya Anda mencintai: menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan.
Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini: menghidupkan.
Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini: bagaimana istri Anda melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, dan menumbuhkannya, mengembangkannya serta menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.
 
Bila Anda ingin mencintai dengan kuat, maka Anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerimanya apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawat dan menjaganya dengan sabar.
Itulah rangkaian kerja besar para pecinta: pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.
 
Apakah Anda telah mengenal istri Anda dengan seksama?
Apakah Anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya?
Apakah Anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya?
Apakah Anda mengenal pola-pola ungkapannya: melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksnya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya?

Apakah Anda dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan?
Apakah Anda dapat melihat gelombang-gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya?
 
Sekarang perhatikanlah bagaimana tingkat pengenalan Rasulullah saw terhadap istrinya, Aisyah. Suatu waktu beliau berkata, "Wahai Aisyah, aku tahu kapan saatnya kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Rasulullah! tapi jika kamu marah padaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Muhammad!"
 
Apakah beda antara Rasulullah dan Muhammad kalau toh obyeknya itu-itu juga?
Tapi Aisyah telah memberikan pemaknaan khusus ketika ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa tertentu, dan kata yang lain pada situasi jiwa yang lain.
 
Pengenalan yang baik harus disertai penerimaan yang utuh.
Anda harus mampu menerimanya apa adanya.
Apa yang sering menghambat dalam proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau obsesi yang berlebihan terhadap fisik.
Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika Anda dapat menerima apa adanya.

Dan ini tidak selalu berarti bahwa Anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan bukanlah kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang.
Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya. Apakah yang ia harap dari bayi kecil itu?
Ketika ia merawatnya, menjaganya, dan menumbuhkannya, apakah ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikannya? Tidak.

Semua yang ada dalam jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang untuk berubah dan berkembang, dan karenanya ia menyimpan harapan besar dalam hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yang akan menjadikan segalanya lebih baik.
 
Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya: pengembangan. Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yang tertutup.
Ketika ia memasuki rumah Anda, memasuki wilayah kekuasaan Anda, menjadi istri Anda, menjadi ibu anak-anak Anda: Andalah yang bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar jadi bunga.

Andalah yang harus menyirami bunga itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati Anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yang akan memberinya gelora kehidupan.
Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi, dan ungkapan 'Aku Cinta Kamu' boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan tidak mengembangkan.

Apa yang harus Anda berikan kepada istri Anda adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa bahwa superioritas Anda terganggu.
Ini tidak berarti Anda harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yang ia butuhkan.
 
Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dalam keseimbangan.
Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta.
Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi.
Itulah sebabnya terkadang Anda perlu memotong sejumlah ranting yang sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni.
 
Hidup adalah simponi yang kita mainkan dengan indah.
Maka, duduklah sejenak bersama dengan istri Anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri: apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama dengan Anda?
Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya:

....Dan nafas cintanya meniup kuncupku
Maka ia mekar jadi bunga...
 
  
  * M. Anis Matta
(dari buku "Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga", Pustaka Ummi, Jakarta 2000)
 
 
(Berbahagialah Bagi Sipemilik Jiwa Yang Telah Memperoleh CintaNya)




Friday, July 09, 2004

Mengapa Kau Buat Aku Harus Memilih Diantara Dua Pilihan



Tiada Mengertikah Dirimu Akan Perasaan di Dalam Dadaku ini?
Tiada Tahukah Kamu Gejolak Bathinku Yang Menggelora Sekarang ini?
Tiada Merasakah Dirimu Akan Kesedihan di Hatiku ini?
Tiada Berartikah Diriku Dalam Hatimu...???

Ingin Aku Menjerit Sekuat dan Sekencang Mungkin
Sampai Hatiku Ini Puas dan
Hilang Semua Keinginan di Dalam Dada ini......

Sekarang ......
Aku Baru Sadar
Tak Seharusnya Aku Bersikap Manja
dan Kekanak-Kanak di Depanmu
Tak Seharusnya Aku Mendambakan Cinta dan Kasih Sayangmu.....

Siapa Aku..... Siapa Aku Bagi Dirimu.....
Aku Bukanlah Siapa-siapa .....

Aku Hanyalah Seberkas Cahaya Yang Tiada Berarti
Aku Hanyalah Setitik Embun di Kejauhan Yang Tak Bermakna
Aku Hanyalah Sebatas Bayang-Bayang Semu di Kegelapan Malam
Tak Berhati....Dan Tak Bernyawa.....

Aku Memang Orang Yang Tak Pantas Untuk Kau Sayangi......

(Teruntuk Bathinku Yang Tengah Bergejolak Kencang Menanti Sampai Datangnya Kematian)